Lauren Hardie

Lauren Hardie memang bukan perempuan Indonesia, tapi dia cinta mati pada negeri ini. Jadi, saya menuliskan kisahnya di sini bersama para #PuanIndonesia. ⠀
■ ⠀

@redhat_travel pertama kali datang ke Jakarta, Maret 2010, 30 tahun ketika itu. Lauren menjadi guru yoga di Kemang. Belum kenal siapa pun. Suatu sore, Lauren berjalan kaki menuju tempat kos. “The sky was gold. It was surreal because I have never been in a muslim society before. Then, I heard prayer calling, it sounded sooo glorious. I was like gasping. Hoaahhh….I held my breath.” Lauren berkata pada dirinya, “Indonesia has captured my soul.” ⠀
■ ⠀


Tak butuh waktu lama bagi, Lauren memutuskan tinggal di Indonesia. Rencana keliling dunia berubah total. Tadinya, dia berencana dalam dua tahun menjelajah Asia-Eropa, lalu kembali ke Amerika. ⠀
■ ⠀

Lauren mengabarkan keputusannya pada ayah-ibunya di Malibu, AS, yg tentu terkaget-kaget. “Well, I told my Mom, if Indonesia wants you, you don’t have power to overcome it.”⠀
■ ⠀

Kini, sudah delapan tahun Lauren tinggal di Indonesia. Dia mengajar murid kelas 6-7 di Highscope School, Jakarta. “They are not kids anymore but not yet adult. I love them.”⠀
■ ⠀

Sudah banyak daerah dia jelajahi, favoritnya adalah Tangkahan, kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. “Jarak” Jakarta – Tangkahan seperti Jakarta – Bandung bagi Lauren. Berenang menyusuri Sungai Buluh Tangkahan, trekking ke hutan, adalah energizer baginya. “I have been here for 12 times these last two years.” Bahkan saat ini Lauren, bersama pasangannya, sedang membangun rumah di Tangkahan.⠀
■ ⠀

Di Tangkahan, dia berteman dekat dengan sembilan gajah yg ada di sana. Dia mencium Ardana, salah satu gajah betina, sedang hamil. “I feel like we are sister, I am pregnant too. Me and Ardana are preparing for motherhood.”⠀

#PuanIndonesia
#CeritaPerempuan
#LifeStory

PUBLISHED BY Puan Indonesia
Go Top